Rabu, 09 Februari 2011

Di Kota Suci

Puisi dari Sahabat Kecilku

Kini aku penuh tawa
Selalu terlihat konyol
Tersenyum lebar tak ingat pipi
Melupakan detik demi detik haluan kenangan
Meninggalkan dermaga kesedihan
Mengabaikan sorak sorai para perusuh fikiran
Lalu kulewati karang emas yang menggiur, dan memang itu berhasil

Kini aku penuh tawa
Di temani para awak yang menertawaiku
Setiap hembusan angin tak akan membuatku goyah
Pantang menyerah dan gagah
Aku tak mau kalah, dan tak akan pernah kalah
Menyongsong setiap kebahagiaan yang sangat ku dambakan

Lalu, kakiku bergetar
Mulutku tak berucap
Bibirku tertutup rapat
Mataku menipu
Dan hatiku kalah

Melihat ke belakang, melihat pulau yang kutinggalkan

Kenangan Tiga

...Punggung bukit batu mulai terlihat jelas, walau belum muncul, matahari telah membagikan sinarnya (terimakasih untuk sahabat2yang telah memberitahuku tentang dua fajar)
Kini aku bisa menangkap jelas wajah2 sahabat, walau berkeringat tapi keceriaan tersirat diwajahnya.
Aku terus pompakan semangat, agar penat hilang, agar kaki2 ini sanggup terus melangkah.( Aku ingat ketika mendaki Gunung Gede Pangranggo..Aku bernyanyi sepanjang perjalanan menemani kawan-kawan yang jauh tertinggal) tapi kini aku berdzikir dan terus ber sholawat sebagai pengganti lagu-laguku.
Entah darimana datang nya serombongan monyet muncul berlarian.lalu mereka berhenti dan memandangi kami .(mungkin mereka berkata)" Kok ganteng dan cantik amat seeeeh!".Kami semua gak geer, ketika mereka mulai menampilkan keahlian mereka berlari dan meloncat di bukit terjal. Dan Ya Allah nun dibukit yang agak tinggi, seekor monyet besar(mungkin ketuanya) mengawasi tingkah polah kelompoknya dan sesekali pandangannya menyapu kami dengan penuh waspada. Keanehan gak sampai disana,setelah beberapa langkah keatas persis setelah rombongan monyet hilang muncul beberapa ekor kambing yang kami gak tahu dimana kandangnya, dan yang jelas mereka cari rumput dimana?.......to be continue

Kenangan dua

Pagi itu masih pekat
pandangan kita masih beberapa meter kedepan
terhalang lebatnya pagi gulita.
Kita berjalan menuju awal undakan
dan ....
entah berapa undakan yang ada
yang akan kami pijak, aku berpasrah padaMu..
Undakan pertama...Bissmillah
Belum seberapa kaki ini melangkah
napas sebagian sahabat
sudah mulai terdengar
sebagian mulai membungkukkan badannya
sebagian lagi bertolak pinggang
mengambil napas sesuka dan 
sedalam-dalamnya.
Lima puluh meter pertama kami lewati...Tiba-tba
Seorang sahabat terjungkal
badannya melayang tak ada topangan
terjerembab kebelakang
dan.....
kecemasan seketika menerkam kami....saat
Tubuh kecil itu, tergeletak
Dalam hitungan detik kesadaran kami muncul,
refleks kamipun bekerja pada kondisi kritis
Tampak dalam keremangan,ada darah dipelipis kiri,dan beberapa parut kecil
di wajahnya.....
Subhanallah...Yang telah memberikan kami kemampuan untuk bertindak
Segala upaya kami lakukan agar sahabat kecil tetap terjaga.Dia menguap
Pandangan nanarnya menyapu sekeliling
lalu menguap yang kedua dan terpejam.
Sebagian dari kami berdzikir, yang lainnya merawat luka dan memanggilnya agar tetap sadar...Dan aku memantau keadaan sekeliling agar tetap aman..
Alhamdulillah...Diapun siuman.
Kami bimbing dia untuk tetap kuat berjalan.
namun sebagian menawarinya untuk kembali.( bersambung:tentang monyet dan kambing)

Kenangan

Adzan subuh selesai berkumandang
Aku dan beberapa teman mengatur shaf
hingga tiga kebelakang.
Dua rakaat selesai sudah, lalu aku khusyuk dalam doa ku, doa untuk keselamatan kami
lalu akupun berdiri 
Hari itu kami berencana menapaki tilas
sebuah perjalanan Rohani dari 
Sang Pembawa Cahaya
Baginda Alam untuk segenap manusia.
Ke Gua Hiro yuk!!!.....Bismillah
Menaiki ambulans berhimpitan, tiada masalah
wajah kami yang lelah seolah sirna seketika.berganti keceriaan yang berkepanjangan
Tak sabar hati menahan rasa dan keinginan
untuk segera sampai...
Lima belas menit ambulans melesat, tak terasa kami sudah sampai
dibatas awal pendakian....Dadaku gemuruh memandang kepuncak
yang belum tampak
Aku berpaling sedikit ke bawah, angin dingin kering menciumi wajahku.Dan..
pandanganku terhenti,terantuk pada alam sekitar 
Kota Harram sedang bermandi kilau cahaya
menghias legam dengan aneka warna
Hingga terjal bebatuan tersepuh sirna....(nanti ditambahin yaa)

disini ada ceritera

orang saling menumpahkan kekesalan, kadang mencaci, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain. Gambar-gambar penuh amarah, hampir tiap hari berganti bermunculan...alamaaaakkkk potret negeri yang carut marut.Konon katanya negeri ini kaya raya, gemah ripah loh jinawi, sepi malinng, nggak ada rampok (entah di abad keberapa). Tapi kenyataannya, kebusukan ada depan kita tiap hari, terbungkus rapi dengan senyum , dengan baju seragam wangi para penyelenggaranya...dimana-mana ada.ya ada dimana-mana....
Ada anak nggak bisa belajar itu wajar, karena uang simpanan unt sekolahnya dipake beli garam dan ikan asin. Ada orang sakit yang akhirnya MATI dirumah karena tidak mampu untuk mengurus surat miskin( karena surat-suratnya sudah dipakai habis ORANG LAIN) atau karena harga obat dan harga kontrol dokter yang sungguh suatu barang mewah. Ada anak-anak kecil tergolek lunglai tersenyum setelah menikmati kenikmatan wanginya LEM...dan ada lagi dan entah berapa lagi kebusukan yang dipelihara, hingga kita terbiasa......
Sekarang kita sedang menikmati episode sinetron kemanusiaan di negeri yang ( konon) orang-orangnya ramah tamah ,manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya, tentang kisah yang nggak pernah usai. satu hilang dua,tiga terbilang..
Alamakjaaaaaaang..
Ada orang gagah memakai uang rakyat,kemana-mana mengatas namakan rakyat,, rapat dihotel mewah pake uang rakyat walau nggak sedikitpun ngomongin nasib rakyat , keluar hotel naik mobil mewah eh pake uang rakyat, dibelokkan nabrak tukang minyak eceran mobil rakyatnya penyok wueleh wueleh ..kok hebat malah nyalahin rakyat....hheheheheh ada hak-hak rakyat yang dirampok...oooowwww bukan dirampok ternyata tapi ada selisih ( kelipet) ketika diurusin pembayaran pajak. Astagfirullah...Ya Allah andai uang trilyunan itu mengalir lewat sungaimu, betapa sejahteranya negeriku ini....(aku menangis tanpa air mata, karena dijalanan, dikolong jembatan, dipanti panti asuhan, dirumah-rumah kontrakan air mata itu membuncah......)Di TV aku masih melihat dan mendengar ocehan.ditelevisi ada pesta mewah sementara saluran lain orang mengatri beras jatah..di televisi aku lihat ratapan, ditelevisi banyak obrolan yang jelas tidak untuk dipertontonkan...Berkacalalah negeriku.